SEMANGAT MEMPELAJARI DAN MENGAMALKAN ILMU YANG BERSUMBER DARI AlQuran Alhadits

Oleh Ustadz Abu Yahya Adrial Martadinata | Feb 28, 2017

SEMANGAT MEMPELAJARI DAN MENGAMALKAN ILMU YANG BERSUMBER DARI AL-QUR'AN DAN AL-HADITS

Segala sesuatu yg dinisbatkan kepada Nabi Muhammad Shallalahu 'Alayhi Wassalam disebut dengan sunnah. Baik dari perkataan, perbuatan atau sikap nabi yang membiarkan / tidak melarang perbuatan para sahabat. Ini yang disebut Al-Hadits.

Begitu juga dengan Kalamullah (Al-Qur'an) disebut sebagai Ahsanul Hadits, artinya sebaik-baik hadits (Perkataan).

Hadits juga bisa diartikan dengan hal - hal baru. 
Tentunya hal baru yg baik - baik.

Oleh karena itu, seseorang jika sudah mempelajari banyak hadits dan ayat Al-Qur'an, harusnya ada banyak hal baru yang timbul. Maksudnya disini hal baru yang baik, yaitu yangg dinginkan Allah dan Rasulnya.

Jangan seperti kebanyakan masyarakat pada saat ini, yang mereka hanya mengikuti orang - orang tua mereka saja. Tidak mau mengambil dari Al-Qur'an dan hadits.

Sebagaimana pada Al-Qur'an disebutkan:

"Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". 

Padahal kemudian Allah mengatakan mereka tidak tahu apa - apa.

"Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. (Al-Maidah: 104)

Maka hendaknya sibukan diri kita untuk belajar agama yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadits. Bukan hanya mengikuti bapak - bapak, kakek, atau yang lainnya.

Walaupun jika melaksanakan nya akan berbeda dengan kebanyakan masyarakat sekarang.

Tetaplah semangat, jangan malu berbeda, asalakan kita yakin bahwa yang dilakukan adalah benar dari Al-Qur'an dan Hadits.

Sebagaimana dulu juga Nabi dicaci maki karena melaksanakan syariat baru yang turun dari Allah.

Kita juga pada saat ini begitu. Jangan takut jika masyarakat menganggap aneh ketika melaksanakan hal baru yang berasal dari Al-Qur'an dan Hadits.

Maka penting juga untuk menjauhi ustadz - ustadz yang tidak membahas hadits dan Al-Qur'an, yang isi nya hanya tawaan, candaan. Karena ini sama saja dengan membodohi umat.

Untuk itu hendaknya ketika ingin mengadakan pengajian, pilih ustadz yang memang membahas Al-Qur'an dan Hadits. Karena kalau tidak, akan berbahaya juga bagi yang mengadakan pengajian tersebut. Ia juga akan terkena dosa.

Dalam hadits disebutkan,

“Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatan jelek tersebut dan juga dosa dari orang yang mengamalkannya setelah itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 1017).
----------

Umar bin Khattab pernah ditanya, "apa itu ilmu ?"

beliau menjawab ada tiga:
1. Al-Qur'an
2. Hadits Nabi
3. Tidak tahu

Tidak boleh bagi seseorang berpendapat jika tidak berdasar dengan dalil dari Al-Qur'an dan Hadits.
Kalau tidak tahu ya katakan tidak tahu.

Jika memang ingin mengambil pendapat seseorang maka pastikan seseorang itu mempunyai keilmuan yang kuat tentang Al-Qur'an dan Hadits.

Sebagaimana Imam Syafi'i yang sudah hafal Al-Qur'an sejak umur 7 tahun, kemudian banyak sekali manghafal hadits- hadits. Atau pun Syaikh abu syuja yang kita bahas bukunya ini.

Daripada mengikuti pendapat sendiri, maka lebih baik ikut pendapat mereka yang ilmu Al-Quran dan hadits nya jauh lebih baik.

Kecuali kita mengetahui bahwa ada dalil dari Al-Qur'an atau Hadits yang bertentangan dengan pendapat mereka. Maka tidak mengapa kita menyelisihi pendapat mereka.

Karena setiap orang bisa saja salah. 

sebagaimana hadits.

"Seluruh anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat" (HR Ibnu Maajah no 4241, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani) 

Bahkan nabi juga pernah berbuat salah. 
Disebutkan dalam surat Abasa, bahwa nabi bermuka masam dan berpaling ketika bertemu dengan orang buta.

Namun langsung di tegur oleh Allah pada saat itu juga dan bertaubat. Makanya pada hadits diatas disebutkan walaupun semua orang bisa bersalah, tapi sebaik - baik orang berdosa adalah yang langsung bertaubat.

Oleh karena itu lebih baik lagi jika kita ikuti Nabi, karena setiap ada kesalahan langsung ada perbaikannya. Artinya nabi itu orang yang paling layak kita ikuti.

Ketika memang dianggap aneh oleh manusia, maka kita harus bisa menunjukan sumbernya dari Al-Qur'an atau hadits, kalau tidak bisa maka tunjukan saja buku nya, dari mana kita dapatkan keterangan.

Maka hendaknya kita rubah cara ngaji kita ini, jangan hanya mendengar saja kemudian setelah itu lupa. Dan ketika ditanya tidak bisa menunjukan bahwa yg dilakukannya itu berasal dari sumber yang jelas (Al-Qur'an dan Hadits).

Hendaknya kita punya buku tentang apa yang dibahas, beli juga untuk dirumah agar bisa dibaca ulang. Kemudian catat apa yang dijelaskan oleh ustadz agar tidak lupa dan bisa dibaca lagi dikemudian hari.

Jangan juga kita mengaji ini hanya mengandalkan waktu luang saja. Namun sebaliknya, 
"Luangkanlah waktu untuk mengaji".

Jika pada ilmu dunia saja (sekolah) kita dipaksa untuk meluangkan waktu, padahal di dunia ini hanya sementara saja. Maka apalagi ilmu akhirat, yang menentukan syurga dan neraka, yang menentukan kehidupan yang kekal nanti. Harus lebih bersemangat dan meluangkan waktu lagi untuk mengaji.
-------------

Pertanyaan:
Apakah batal wudhu jika menyentuh istri (lawan jenis) ?

Jawaban:
Sebagaimana yang sudah kita bahas bahwa nabi biasa mencium istri nya setelah berwudhu dan shalat tanpa berwudhu kembali.

"Dari Aisyah, sesungguhnya Nabi itu sering mencium salah seorang istri kemudian beliau langsung shalat tanpa mengulang wudhu" (HR Nasai no 170 dan dinilai shahih oleh al Albani).

Maka pendapat yang terkuat adalah tidak membatalkan wudhu. 

Dan pendapat imam syafi'i yang kebanyakan masyarakat ikuti bahwa batal ketika menyentuh lawan jenis boleh kita selisihi karena ada perbuatan nabi yang bertentangan.

Artikel lain