Rangkuman Kajian MT-Sulaiman - Matan Abu Syuja - BAB Shalat - Bag 3

Oleh Ustadz Adrial | Feb 16, 2017

Syaikh Abu Syuja rahimahullah dalam menulis kitab ini yaitu Matan Abu Syuja tidak selalu berurutan saat menjelaskan suatu bab. Contohnya dalam bab yang kita bahas ini yaitu bab shalat, beliau menjelaskan dulu waktu - waktu shalat, baru setelah itu beliau membahas syarat wajib shalat.

Pada pembahasan bab ini, kita akan mulai dulu dari syarat wajib shalat kemudian setelah itu baru waktu - waktu shalat sebagaimana yang ada pada kitab Al-Wajiz.

SYARAT WAJIB SHALAT

Penulis yaitu Syaikh Abu Syuja mengatakan bahwa syarat seseorang wajib melakukan shalat itu ada tiga yaitu Islam, Baligh dan Berakal. Ketiga tersebut juga merupakan batasan taklif, Yaitu Orang - orang yg sudah terbebani syariat islam.

1. Islam

Ini menunjukan bahwa hanya orang - orang muslim lah yang diterima amalnya, sedangkan orang - orang kafir walaupun mereka melakukan ibadah shalat atau yang lainnya, amal mereka tidak akan diterima oleh Allah.

Karenanya pada hari hisab nanti, penimbangan amal itu hanya berlaku untuk orang - orang islam saja. Sedangkan orang - orang kafir, mereka langsung masuk neraka. TIdak ada hisab dulu.

2. baligh

Perlu diketahui bahwa ketetapan atau menentukan seseorang sudah baligh atau belum bukanlah dilihat dari umur seseorang. Bagi laki - laki, dikatakan baligh apabila sudah memenuhi salah satu kriteria yaitu Mimpi dan Tumbuhnya rambut - rambut halus (seperti ketiak, janggut) atau dan berubahnya suara.

Jika ada salah satu yang tampak dari dua hal diatas pada laki - laki, maka sudah dikatakan baligh, walaupun umur nya masih kecil. Bagi wanita, dikatakan baligh ketika sudah haidh saja. Tidak ada kriteria lain.

Maka walaupun seorang wanita sudah dewasa, umur 20 misalnya. Jika belum haidh maka dia belum dikatakan baligh. Namun pada umumnya wanita dengan umur demikian biasanya sudah haidh.

3. berakal

Yaitu tidak majnun, artinya akalnya itu tidak tertutup, tidak gila. Maka setiap orangg yang akalnya tertutup, ia tidak wajib shalat. Begitu juga ketika ia mabuk maupun menggunakan obat - obatan terlarang. Ia tidak boleh shalat melainkan ia langsung terhitung berdosa.

Demikian juga islam melarang melakukan amalan lain ketika tertutup akalnya, misalnya pada saat ngantuk jangan kita melaksanakan shalat, tapi tidur saja dulu.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika salah seorang di antara kalian dalam keadaan mengantuk dalam shalatnya, hendaklah ia tidur terlebih dahulu hingga hilang ngantuknya. Karena jika salah seorang di antara kalian tetap shalat, sedangkan ia dalam keadaan mengantuk, ia tidak akan tahu, mungkin ia bermaksud meminta ampun tetapi ternyata ia malah mencela dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 212 dan Muslim no. 786).

Kemudian jika sudah lapar, maka itu udzur kita boleh makan dulu baru melaksanakan shalat. Ataupun ketika ingin buang angin atau buang air, maka hendaknya kita keluarkan dulu. Jangan ditahan ketika dalam keadaan shalat.

Jika kita shalat dalam keadaan seperti itu, maka kita tidak akan fokus, tidak akan khusyuk dalam melaksanakannya. Inilah yang dimaksud tertutup akalnya. Kita jadi memikirkan hal lain, pikiran kita tertutup dari khusyuk dalam shalat.

Begitu juga ketika Ramadhan, jika tidak sanggup shalat pada tengah atau sepertiga malam karena ngantuk, maka jangan shalat pada waktu itu. Ambilah waktu dimana kita belum ngantuk, yaitu setelah 'Isya misalnya. Lalu tidur.

Nanti ketika sepertiga malam kita terbangun. Kita bisa melakukan ibadah - ibadah lain seperti membaca Al-Qur-an atau shalat lagi jika ngantuknya sudah hilang.

Pembahasan tertutup akal ini juga sebagaimana dijelaskan dalam hadits,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berasbda:

“Telah diangkat pena dari tiga golongan: dari orang gila (majnun, tertutup akalnya) sampai ia sadar, dari orang tidur hingga ia bangun, dan dari anak kecil hingga ia baligh.” [Hadits shahih, Sunan at-Tirmidzi, II/102/693].

Perlu diketahui setiap kata dalam bahasa arab dimana ada huruf jim dan nun yang bertemu, itu artinya "tertutup". Contohnya:

- Janin

Pada asalnya kita tidak bisa melihat janin di dalam perut wanita. Kita bisa melihatnya jika menggunakan alat tertentu.

- Jin

Jin juga seharusnya tertutup dari kita. karena berbeda alam nya. Maka pada asalnya kita tidak bisa melihat Jin kecuali bekerja sama dengan Jin yang mana ini tidak dibenarkan dalam agama.

- Jannah

Syurga dikatakan jannah artinya tempat itu tertutup dari kita untuk melihatnya, kita hanya diberitakan oleh Allah tentang bagaimana syurga, tapi tetap tidak bisa dilihat.

Begitu juga dengan kata majnun, yang berarti tertutup akalnya.  Akan tetapi wajib atas org tua untuk memerintahkan anak nya shalat sebelum dia baligh agar terbiasa ketika sudah baligh. sebagaimana pada hadits.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur 7 tahun, dan kalau sudah berusia 10 tahun meninggal-kan shalat, maka pukullah ia. Dan pisahkanlah tempat tidurnya (antara anak laki-laki dan anak wanita).” [Hadits hasan, Ahmad, II/180, 187].

Perhatikan, Nabi memerintahkan anak kecil shalat pada umur 7 tahun. Maka sebelum tujuh tahun jangan di ajak ke masjid dulu. Ini sering kita dapati di masjid - masjid. Seorang ayah yang semangat untuk mengajari anaknya shalat ke masjid, ia bawa anak nya yang masih kecil ke masjid.

Padahal ketika anak berumur dibawah 7 tahun, atau masih balita misalnya. Anak ini akan mengganggu orang yang sedang shalat. Kadang kita lihat ia masuk dalam shaf, lalu lari meninggalkan shaf menyebabkan shaf bolong. Terkadang ia juga tidur - tiduran di depan orang shalat. Atau juga sering kali lari - lari diantara shaf, menyebabkan terganggunya orang  orang yang sedang shalat.

Oleh karena itu hendaknya kita suruh anak kecil shalat itu mulai 7 tahun, suruh dia ke masjid. Namun tidak apa-apa ketika mereka masih suka malas - malasan ke masjid. Nanti ketika sudah 10 tahun, baru boleh dipukul. Karena pada saat itu mereka sudah besar. Bahkan Nabi juga memerintahkan untuk memisahkan tempat tidur antara laki-laki dan perempuan pada umur itu.

Ketika mau masuk ke kamar orang tua juga, ajarkan anak untuk mengetuk dulu. Agar terhindar dari fitnah. Makanya orang tua juga harus berhati - hati ketika anaknya sudah mulai berumur 10 tahun.

Perlu diingat juga bahwa orang tua tidak boleh menampakan aurat pada anak nya, terutama aurat-aurat yg sensitif seperti payudara, paha, dan lainnya. Karena anak pada umur 10 sudah mulai ada kecenderungan pada wanita. Begitu juga dengan saudaranya yang berlawanan jenis.

WAKTU SHALAT

Penulis mengatakan shalat wajib itu ada 5 waktu shalat, Ketika Nabi melakukan Isra Miraj, memang Nabi diperintahkan oleh Allah mengerjakan 50 waktu shalat. tetapi Allah beri keringannan atau diringkas menjadi 5 waktu shalat.

Banyak orang yang memahami bahwa pada saat isra miraj itu nabi diperintahkan Allah untuk shalat 50 rakaat. Padahal bukan 50 rakaat, melainkan 50 waktu.

Bayangkan jika tidak diberi keringan oleh Allah, maka kita akan mendengar adzan setiap setengah jam sekali. Namun atas kasih sayang Allah pada hambanya, maka diringankan menjadi 5 waktu shalat saja. Itu pun kita lihat masih banyak orang- orang yang meninggalkan shalat.

1. Shalat dzuhur

Masuknya waktu dzuhur ketika mulai bergesernya matahari dari tengah ke arah barat. Artinya ketika kita melihat sebuah tongkat atau benda dan bayangannya sudah terlihat ke arah timur, maka sudah masuk shalat dzuhur.

Pada saat matahari di tengah, yaitu ketika bayangan sebuah benda tidak terlihat maka tidak boleh kita shalat apapun termasuk shalat - shalat sunnah. Karena ada larangan dari nabi kita tidak boleh melakukan shalat pada tengah hari.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiyallahu anhu, ia berkata:

“Tiga waktu yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami shalat atau mengubur orang-orang mati kami pada saat itu: ketika matahari terbit hingga naik, ketika pertengahan siang hingga matahari tergelincir, ketika matahari condong ke barat hingga tenggelam.”  [Shahiih Muslim, I/568 no. 831]

Meskipun sebagian ulama ada yang membolehkan shalat sunnah seperti shalat tahiyatul masjid, tapi sebaiknya kita tunggu saja saat setelah adzan dzuhur baru kita shalat. Batas akhir dari waktu dhalat dzuhur ini yaitu ketika bayangan benda terlihat sama tingginya dengan benda aslinya.

*Dikarenakan keterbatasan waktu pembahasan minggu ini sampai dengan Waktu Shalat Dzuhur, Insyaallah minggu depan akan dilanjutkan kembali.

Artikel lain