Rangkuman Kajian MT-Sulaiman - Matan Abu Syuja - BAB Shalat - Bag 2

Oleh Ustadz Adrial | Feb 01, 2017

Pada kajian kali ini pembahasannya mengenai Hukum Meninggalkan Shalat. Para ulama dalam menghukumi orang yang meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja, membagi pada dua keadaan.

Pertama, para ulama sepakat akan kafirnya sesorang jika menolak dan menentang kewajiban shalat.

Kedua, para ulama berselisih pendapat ketika ada seseorang yang meninggalkan shalat tapi masih meyakini wajibnya shalat. Apakah dia langsung dihukumi kafir atau tidak.

Pendapat pertama menyebutkan langsung kafir, keluar dari Islam.

Dalam hadits Riwayat Muslim Nabi SAW bersabda,

“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.”

Juga disebutkan pada hadits lainnya,

“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.”

Namun, dalam Islam kafir tidak mesti berarti kafir langsung keluar dari Islam. Sebagaimana syirik ada tingkatannya yaitu Syirik Akbar yang menyebabkan pelakuknya keluar dari Islam dan Syirik Asghar yang merupakan syirik kecil (dihukumi dosa besar).

Pendapat kedua yang merupakan pendapat yang kuat diantara pendapat para ulama yaitu, hal ini adalah syirik kecil. karena banyak hadits yangg menyebutkan hal tersebut.

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan yang lainnya,

“Shalat lima waktu telah Allah ‘Azza wa Jalla wajibkan bagi hamba-Nya. Barangsiapa mengerjakannya, tidak mengabaikannya sedikitpun dan tidak pula meremehkan haknya ini, maka Allah berjanji  akan memasukkannya dalam surga. Dan barangsiapa tidak melaksanakannya, maka Allah tidak memiliki janji. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengadzabnya dan jika Dia menghendaki, dia akan memasukkannya dalam surga.”

Dalam hadits tersebut disebutkan bagi yang meninggalkan shalat bisa saja Allah mengadzab nya atau mengampuninya. Maka dari sini dapat dikatakan bahwa meninggalkan shalat tidak langsung kafir karena masih ada kemungkinan dia diampuni.

Hadits lainnya,

“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala  mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya.”

Hadits ini menunjukan bahwa tidak langsung kafir orang yang meninggalkan shalat karena disebutkan bahwa shalat yang sunnah masih bisa untuk menyempurnakan shalat wajibnya jika shalat wajibnya bolong-bolong.

Hadits lain yang merupakan hadits pamungkas untuk masalah ini adalah hadits dari sahabat hudzaifah radiyallahuanhu,

“Islam akan hilang sebagaimana hilangnya motif pakaian sehingga tidak diketahui apa itu puasa, apa itu shalat, apa itu nusuk (sembelihan), dan apa itu zakat. Kitabullah akan diangkat pada suatu malam. Lalu tidaklah tersisa di dunia satupun ayat dari kitabullah. Kemudian akan tersisa sekelompok manusia yang terdiri dari pria dan wanita yang tua renta. Mereka mengatakan, ’Kami mendapati nenek moyang kami mengucapkan kalimat ‘lailaha illallah’, lalu kami ikut mengatakan kalimat tersebut.” Lalu Shilah (seorang tabi’in senior) mengatakan kepada Hudzaifah, “Tidak bermanfaat bagi mereka kalimat ‘laa ilaha illallah’ sedangkan mereka dalam keadaan tidak mengetahui shalat, puasa, nusuk (menyembelih) dan zakat.” Kemudian Hudzaifah berpaling darinya. Shilah mengulangi perkataannya sampai tiga kali. Namun hanya direspon oleh Hudzaifah dengan berpaling. Setelah ketiga kalinya, Hudzaifah menghadap Shilah seraya mengatakan,”Wahai Shilah, la ilaha illalloh itu menyelamatkan meraka dari neraka.”

Maka dari hadits tersebut menunjukan bahwa orang yang meninggalkan shalat bahkan tidak mengerjakannya sama sekali masih bisa selamat (tidak kekal) dari neraka. Artinya tidak dihukumi kafir, karena orang kafir kekal di neraka.

Penulis juga menyebutkan bahwa para sahabat telah berijma (sepakat) jika ada yang meninggalkan shalat, maka mereka tidak mengkafirkannya tapi memasukannya pada golongan orang-orang munafik.

Orang munafik adalah orang yang mengaku Islam tapi sejatinya hatinya kafir. hanya luarnya saja ia terlihat muslim. Makanya orang-orang munafik susah sekali untuk beramal. Dan orang munafik ini hukumannya lebih berat dari orang-orang kafir.
 

Kesimpulannya bahwa orang yang meninggalkan shalat terbagi menjadi dua keadaan.

  1. Jika pelakunya menolak kewajiban shalat maka dihukumi kafir
  2. Jika pelakunya masih meyakini wajibnya shalat, tapi tidak bisa mengerjakannya karena sibuk atau alasan lainnya, maka tidak kafir tapi dianggap telah melakukan dosa besar.

Maka penting sekali masalah shalat ini. Tidak bisa kita remehkan.

Semangatlah dalam mengajak saudara saudari kita untuk shalat. Jika kita memang sayang pada mereka dan ingin mereka selamat maka harusnya kita ajak mereka yang masih malas-malasan atau banyak alasan untuk mengerjakan shalat.

Jangan lupa untuk mengajak, mengajarkan anak kita untuk shalat mulai dari kecil. Nabi memerintahkan untuk mengajarkan anak kecil shalat umur tujuh tahun. Agar ketika besar nanti sudah terbiasa. Kalau tidak mau boleh kita memukulnya. Karena jika ternyata pendapat pertama yang benar (yaitu langsung kafir) maka bahaya sekali ini.

Bukankah mengajak pada kebaikan akan menghasilkan pahala juga jika orang tersebut mengerjakannya.

Dalam hadits muslim disebutkan,

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya”.

Jika sudah melaksanakan yang wajib, yang sunnah-sunnah juga kita berusaha untuk mengerjakannya. Walaupun dalam hadits arba'in disebutkan bahwa orang yang melaksanakan yang wajib saja sudah bisa memasukan nya ke dalam syurga, tapi syurga itu kan bertingkat-tingkat. Maka jangan cukupkan dengan yang wajib saja, tapi tambahkan juga dengan yang sunnah-sunnah. Supaya yang wajib bisa disempurnakan juga karenanya.


Pertanyaan:

Bagaimana hukum bermakmum dengan makmum?

Jawab:

Bermakmum dengan makmum yang masbuk, dengan menoel biasanya ya, maka shalatnya sah tapi tidak sesuai sunnah. Karena di zaman Nabi SAW tidak pernah dilakukan yang seperti itu.

Dulu di zaman Nabi SAW ada dua sahabat yangg tidak mendapatkan air kemudian mereka tayamun, ternyata beberapa langkah setelah shalatnya selesai mereka menemukan oase. Maka yang satu mengulang shalatnya tapi yang satu tidak. Kemudian bertanya kepada nabi.

kata Nabi SAW, engkau yang mengulang shalatnya dapat dua ganjaran, dan yg tidak maka engkau sesuai sunnah.

Kita sudah bahas bahwa tayamum itu disyariatkan jika tidak air atau tidak bisa menggunakan air. Dan tayamum akan batal jika ada air.

Kemudian pahala sunnah itu tidak ada hitungannya (besar sekali), maka lebih baik kita ikuti sunnah dibandingkan yang tidak ikut sunnah hanya dapat dua ganjaran saja.

Sahalatnya wanita juga di rumah itu lebih baik dari shalat nya di masjid nabawi yang kita tahu shalat di masjid nabawi itu pahalanya seribu kali dari melaksanakan shalat di tempat lain.

Banyak sekali amal ibadah yang pahalanya besar walaupun ringan pengerjaannya. Sedikit beramal tapi pahalanya besar. Makanya Nabi SAW juga mengatakan bahwa amal yang paling baik itu bukan yang banyak tapi yang walaupun sedikit tapi rutin dikerjakan.

Jadi shalat bermakmum di belakang makmum yang masbuk tetap sah, tapi tidak sesuai sunnah. Lebih baik kita tunggu orang-orang yang belum mengerjakan shalat dan membuat jamaah lagi. Lagipula menoel itu akan mengganggu. Jika orang tersebut tidak siap jadi imam maka takutnya jadi tidak bener shalatnya.

Wallahu'alam

Artikel lain