Rangkuman Kajian MT-Sulaiman - Matan Abu Syuja - BAB Shalat - Bag 4

Oleh Ustadz Adrial | Mar 10, 2017

Selanjutnya kita masuk pada pembahasan waktu - waktu shalat sebagaimana yang di bawakan oleh penulis Syakih Abu Syuja rahimahullah.

Mengenai waktu - waktu shalat, diantara dalilnya yaitu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Nasa'i, dan yang lainnya, bahwasannya pada waktu itu Jibril 'alayhis salam telah menceritakan tentang waktu shalat kepada nabi shallallahu 'Alayhi Wassallam.

WAKTU DZUHUR

Waktu shalat dzuhur sebagaimana yang sudah kita bahas di pertemuan sebelumnya, ini dimulai dari bergesernya matahari ke sebelah barat. 

Jadi saat tidak terlihat ada bayangan pada sebuah benda karena matahari pas berada di tengah, maka belum masuk shalat dzuhur dan ketika itu tidak boleh melakukan shalat apapun. 

Barulah saat matahari sudah mulai bergeser ke arah barat sedikit dan bayangan benda terlihat ke arah timur, maka sudah masuk waktu shalat dzuhur sampai bayangan benda sama tingginya dengan benda aslinya.

Waktu - waktu ini penting sekali kita ketahui, shalat seseorang tidak akan diterima jika melaksanakan shalat diluar waktunya. Karena sudah kita bahas sebelumnya, bahwa diantara syarat sah nya shalat adalah masuknya waktu.

Jadi jika sudah masuk waktu shalat, namun belum terdengar adzan, dan dia shalat, maka sebenarnya shalatnya sah, diterima. Karena sudah masuk waktu.

Sebagai tambahan, shalat dzuhur pada asalnya harus disegerakan/percepat, kecuali panas terik maka boleh diakhirkan sampai cuaca dingin sesuai dengan kesepakatan.

sebagaimana hadits,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya jika keadaan sangat dingin beliau menyegerakan shalat dan jika keadaan sangat panas/terik beliau mengakhirkan shalat” (HR. Bukhari no. 906).

Begitu juga kata para ulama ketika hujan besar. boleh diakhirkan bahkan boleh di rumah.

Makanya jangan aneh ketika kita ke makkah dan adzannya ada tambahan ketika hujan deras.

Alaa shollu fi rihaalikum, Alaa shollu fir rihaal [Shalatlah di rumah kalian, shalatlah di rumah kalian]

inilah kemudahan islam. Gunakanlah kemudahan yg diberikan oleh Allah kepada kita.
----------------

WAKTU ASHAR

Waktu shalat ashar dimulai dari ketika bayangan sama tingginya atau sudah sedikit melebihi tingginya dengan benda sampai terbenamnya matahari.

Mengenai akhir waktu shalat ashar,
meskipun mahdzab syafi'i disini berpendapat batas akhir shalat ashar itu ketika tinggi bayangan sudah dua kali benda nya. Namun yang tepat adalah masih dibolehkan sampai matahari terbenam atau tenggelam.

Jadi ketika matahari masih kelihatan bentuk bulatannya, maka masih boleh shalat ashar.

Barulah ketika matahari sudah benar - benar tenggelam sebagaimana kalau kita lihat dipantai matahari sudah tidak terlihat lagi, meskipun masih ada cahayanya, ini menunjukan batas akhir shalat ashar.

SHALAT ASHAR DISEBUT JUGA DENGAN SHALAT WUSTHAA

Shalat ashar disebut juga shalat wusthaa sebagaimana ayat al quran.

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'. (Al-Baqarah 238)

Yang dimaksud dengan “shalat wustha” dalam ayat di atas adalah shalat ashar. Hal ini berdasarkan hadits dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam ketika terjadi perang Ahzab, 

“Mereka (kaum kafir Quraisy, pent.) telah menyibukkan kita dari shalat wustha, (yaitu) shalat ashar.” [HR. Bukhari no. 2931 dan Muslim no. 627. Lafadz hadits ini milik Muslim. ]

Perang ahdzab disebut juga dengan perang khandaq, yaitu perang yang tidak terjadi pertumpahan darah. Karena nabi menggunakan strategi membuat sebuah parit yg tidak bisa dilompati oleh kuda sekalipun.

Kaum muslimin ketika terjadi perang tidak bisa melaksanakan shalat. Mereka harus memantau para pasukan quraisy untuk memastikan tidak ada yang melewati parit tersebut. Maka kaum muslimin pada saat itu terpaksa harus terus berjaga - jaga, karena kalau sedikit saja lengah, kaum muslimin bisa terbunuh.

Setelah perang usai nabi pun murka karena perang ini telah melalaikan kaum muslimin dari shalat ashar. Dan pada waktu itu nabi menjamak seluruh shalat dari dzuhur sampai shubuh hari berikutnya dalam satu waktu.

Inilah kaidah darurat.
Keadaan darurat yaitu ketika nyawa adalah taruhannya. Maka hal yang diharamkan boleh dilakukan.

Contohnya memakan yang diharamkan oleh Allah yaitu babi.

Babi boleh kita makan ketika darurat, yaitu ketika memang tidak ada makanan lagi selain babi. Karena jika kita tidak memakannya maka khawatir akan mati. Namun perlu diingat bahwa tiadak boleh berenak - enak memakan nya. Cukup untuk mengisi perut saja, setelah itu tidak boleh lagi memakan nya.

Dalam perang ahdzab juga, ketika masih dalam keadaan perang,

Malam harinya ketika kaum muslimin sudah lelah dan tidak bisa apa - apa Allah menurunkan bantuan berupa angin. Angin ini menerbangkan perlengkapan kaum quraisy, sehingga kaum quraisy pun pulang dan perang ini pun selesai.

Ini merupakan tanda, bahwasannya Allah biasanya akan menurunkan bantuan ketika kita sudah pasrah. Maka yakinlah bahwa Allah pasti akan meninggikan atau memenangkan kaum muslimin.

Makanya Allah berfirman,

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (At-Talaq 2)

Hendaknya ketika kita ada permasalahan, dekatkanlah diri kepada Allah. Bukan malah menjauh.

Seperti ketika ada orang sakit, atau seorang ibu yang akan melahirkan, hendaknya ia mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Karena oleh siapa lagi kita bisa diringankan bebannya selain oleh pemberi beban tersebut, yaitu Allah subhana hu wa ta'ala.

parit ini sekarang ditutup karena banyak yg menganggap ahung nya berubadah disana.

kebanyakan orang melaksanakan shalat disana padahal tidak ada keutamaannya sama sekali.
-----------

TAMBAHAN

Sedikit tambahan mengenai siapa saja yang sudah terlanjur jatuh pada demokrasi.

Demokrasi merupakan sistem kufur, karena mereka menetapkan suara manusia lah suara tuhan, yaitu siapa yang mendapat suara paling banyak maka ia yang menang.

Sistem deomkrasi ini tentu tidak benar, karena dalam sistem akan menganggap semua orang itu sama, baik yang berilmu ataupun tidak. Suara seorang kafir , pencuri, penzina, dan orang - orang yang bertaqwa dianggap sama. Padahal islam tidak demikian.

Oleh karena itu tidak boleh kita terjun pada demokrasi.

Namun kata sebagian para ulama, kita boleh terjun jika darurat. misalnya pada pemilihan gubernur jakarta saat ini, yang kalau tidak ikut memilih, maka khawatir akan dipimpin oleh orang kafir.

Tapi tidak perlu mengajak orang - orang. Karena sekali lagi ini sistem kufur. 

dan kita akan mendapat dosa juga ketika salah dalam mengajak kepada hal yang dilarang.
-------

Pertanyaan:
Apakah benar malaikat bergantian berjaga pada saat berganti nya waktu shalat?

Jawab:
Saya tidak tahu, 
saya belum pernah menemukan keterangan dari hadits tentang hal tersebut.

Tapi jika yang dimaksud adalah malaikat yang menjaga kita manusia, itu memang ada.

Wallahu'alam

Artikel lain