Sunnah-Sunnah dalam Sholat

Oleh Ust. Adrial | Feb 19, 2018

Shalat merupakan kewajiban seorang muslim kepada Tuhannya, Allah. Ibadah inilah yang paling pertama akan dihisab di akhirat kelak, sebagaimana sabda Rasulullah:

“Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah sholatnya.”

Menurut Imam Syafi’i dan Hanbali Sesungguhnya barangsiapa yang meninggalkan sunnah-sunnah shalat, Allah SWT tidak memberikan dosa tetapi ia tidak mendapatkan pahala sunnahnya.

Menurut Imam Syafi’i sunnah-sunnah shalat itu ada 2, yiatu sunnah ab’adh dan haiaat. Sunnah ab’adh adalah sunnah yang apabila ditinggalkan maka diganti dengan sujud sahwi. Jumlah sunnah Ab’adh yang biasa kita ketahui ada dua, yiatu qunut dan tahiyat ke dua pada sholat. Sunnah Ab’adh sendiri secara lengkapnya ada 20 yaitu:

1. Qunut pada raka’at terakhir shalat shubuh dan pada sholat witir di setengah terakhir dari bulan Ramadhan. Qunut nazilah bukan termasuk sunnah ab’adh. 2. Berdiri pada saat qunut. 3. Membaca sholawat nabi. 4. Berdiri pada saat membaca sholawat nabi. 5. Membaca salam kepada nabi setelahnya. 6. Berdiri pada saat membaca salam kepada nabi. 7. Membaca sholawat kepada keluarga nabi. 8. Berdiri pada saat membacanya. 9. Membaca sholawat kepada para sahabat. 10. Berdiri pada saat membacanya. 11. Membaca salam kepada nabi. 12. Berdiri pada saat membacanya. 13. Membaca salam kepada para sahabat. 14. Berdiri pada saat membacanya. 15. Tasyahud awal pada sholat-sholat yang 4 dan 3 rakaat. 16. Duduk pada saat tasyahud. 17. Membaca sholawat kepada nabi (saat tasyahud). 18. Duduk ketika membacanya (sholawat nabi). 19. Membaca sholawat kepada keluarga nabi. 20. Duduk pada saat membacanya

Menurut Imam Syafi’i sunnah-sunnah ab’adh itu merupakan sunnah yang mendekati rukun sholat maka dari itu ketika ditinggalkan perlu diganti dengan sujud sahwi. Sedangkan sunnah-sunnah Haiaat tidak ada jumlah khususnya. Adapun yang termasuk sunnah haiaat adalah :

1. Ketika terjadi sesuatu saat shalat berjamaah (misalnya imam lupa), maka makmum mengingatkan dengan cara :

- Makmum laki-laki mengucapkan “Subhaanallah

- Makmum perempuan dengan menepuk tangan

2. Khusyu’ dalam setiap sholat

3. Julus istirohah (duduk istirahat/sejenak, apabila sholat berdiri) setelah sujud kedua sebelum berdiri pada rakaat kedua dan keempat.

4. Berniat keluar dari sholat ketika salam pertama

5. Meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung pergelangan tangan kiri. Dan tangan kanannya menggenggam tangan kirinya. (Hikmah dari sunnah ini adalah untuk menjaga hati kita, karena seseorang apabila takut akan sesuatu maka ia melindunginya dengan tangannya)

6.  Setelah takbirotul Ihram membaca Iftitah, disunnahkan untuk sholat fardu maupun sunnah (kecuali shalat jenazah), imam ataupun makmum, bahkan dianjurkan dibaca walaupun imam telah memulai bacaan al-fatihah. Ketika telah membaca ta’awudz (sengaja ataupun lupa) maka tidak disunnahkan membaca doa al-iftitah, melainkan langsung membaca al-fatihah.

7. Mengeraskan suara saat shalat yang jahr, sholat sendiri ataupun imam ketika berjamaah (bagi laki-laki), namun makmum tidak mengeraskan suara. Adapun perempuan maka disunnahkan untuk mengeraskan suara apabila tidak takut didengar oleh ajnabi (orang yang bukan mahram). Namun apabila ada ajnabi maka disunnahkan untuk membaca dengan samar.

8. Mengucapkan “Amin” setelah membaca surah al-fatihah, ketika shalat berjamaah jahr maka imam dan makmum bersama-sama mengucap “amin”, tetapi jika shalat yang sir maka imam dan makmum tidak mengucapkan “amin” secara bersamaan.

9. Membaca surat al-quran setelah membaca al-fatihah (walaupun bukan 1 surat lengkap). Menurut Imam Syafi’i membaca satu surat lengkap lebih utama daripada membaca potongan surat, tetapi satu surat yang lengkap itu tidak lebih banyak dari potongan surat tersebut. Apabila lebih banyak dan lebih panjang potongan surat maka itu lebih disunnahkan daripada membaca satu surat lengkap yang pendek. Dan disunnahkan surat yang dibaca pada rakaat pertama lebih panjang dari surat yang dibaca paada rakaat kedua.

10. Ketika shalat berjamaah jahr imam disunnahkan untuk berhenti sejenak setelah membaca al-fatihah dalam waktu yang sekiranya cukup bagi makmum untuk membaca al-fatihah.

11. Duduk iftirasy (duduk di atas tumit kaki kiri, sedangkan punggung kakinya ditempelkan ke lantai, kemudian mendirikan telapak kaki kanannya dan menghadapkan ujung-ujung jarinya ke arah kiblat).Iftirasy berasal dari kata iftarosya-yaftarisyu yang artinya menghamparkan, disebut duduk iftirosy karena kaki dihamparkan ke lantai.

12. Kemudian Salam.

Artikel lain