Shalat Dua Hari Raya

Oleh Ustadz Adrial | Nov 02, 2018

HUKUM SHALAT HARI RAYA
Penulis mengatakan, shalat hari raya itu wajib atas kaum laki-laki dan perempuan, karena Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam selalu mengerjakannya dan menyuruh kaum perempuan untuk keluar.

Jadi termasuk yang mewajibkan shalat 'Id adalah penulis Al-Wajiz ini, Syaikh Abdul Azhim Al-Badawi dan juga syaikh Al-Bani, yang ini merupakan pendapat Ibnu Hazm Al-Andalusi. Meskipun Jumhur Ahlul Fiqh (Imam 4 Mahdzab) berpendapat shalat 'Id itu sunnah mu'akadah saja.

Wajibnya ini sebagaimana hadits dari Ummu Athiyah,
“Kami diperintahkan untuk mengeluarkan perempuan yang sudah baligh dan perempuan yang sedang dalam pingitan (untuk menghadiri shalat ‘Id)". (Mutafaqun 'Alayhi)

Begitu juga hadits dari Hafshah binti Sirrin, ia bercerita bahwa dahulu para wanita di zaman nabi sering ditinggal oleh suaminya perang, dan bertanya pada nabi shallallahu 'alayhi wa sallam, "bolehkah salah seorang di antara kami tidak keluar jika tidak memiliki jilbab?” Beliau bersabda, “Hendaklah temannya meminjamkannya jilbab kepadanya. Dan saksikan kebaikan dan dakwahnya kaum muslimin." (Mutafaqun 'Alayhi)

Dari hadits diatas para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat 'Id. Sebagian berpedapat sunnah dengan alasan pertanyaan wanita yang menanyakan boleh tidaknya tidak keluar rumah, artinya kebiasaan mereka tidak menghadiri shalat 'Id yang menunjukan sunnah saja. 

Sebagian ulama lainnya berpendapat wajib dengan alasan karena nabi sampai menyuruh perempuan yang tidak mempunyai jilbab untuk dipinjami jilbab dan keluar.

Inilah khilaf dalam fiqh, dimana banyak pemahaman para ulama yang berbeda padahal dasarnya atau dalilnya sama. Maka yang perlu difahami bahwa selama tidak ada dalil yang mempertegas maka dibolehkan kaum muslimin memilih diantara pendapat yang ada.

 

WAKTU SHALAT HARI RAYA
Dari Yazin bin Khumair, dia berkata, "Abdullah bin Busr, sahabat nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam keluar bersama orang-orang pada hari raya ‘Idul Fithr dan ‘Idul Adha. Kemudian dia mengingkari keterlambatannya imam menegakan shalat. Dia berkata, Dahulu kami sudah selesai pada saat seperti ini. (Shahih Sunan Abi Daud)

Menunjukan bahwa hendaknya shalat 'Id itu dipercepat, tidak dilambat-lambat, karena hari tersebut untuk bersenang-senang. Tidak seperti yang terjadi di zaman sekarang ini, shalat 'Id terkadang diundur-undur karena menunggu jamaah hanya karena khawatir kotak infaq tidak penuh terisi.

Bahkan pada zaman Abu Sa'id Al-Khudri ada seorang imam yaitu Malik bin Marwan yang menarik khutbah ke waktu sebelum shalat 'Id, dan saat itu Abu Sa'id langsung mengingkarinya. Karena secara tidak langsung menjadikan khutbah tersebut wajib. Padahal khutbah setelah shalat 'Id hukumnya sunnah saja, sebagaimana kata nabi "Bagi yang ingin mendengarkan silahkan, dan yang ingin meninggalkan silahkan."

 

KELUAR KE TANAH LAPANG
Dari hadits-hadits terdahulu, diketahui bahwa tempat shalat ‘Id adalah Al Mushalla (tanah lapang yang luas). Karena Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam keluar ke sana dan orang-orang setelah beliau pun melakukan hal yang sama.

 

APAKAH PERLU DIKUMANDANGKAN ADZAN DAN IQAMAT?
Dari Ibnu ‘Abbas dan Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhum, mereka berkata, “Tidak pernah dikumandangkan adzan baik pada hari raya ‘Idul Fithr dan ‘Idul Adha.” (Mutafaqun 'Alayhi)

Begitu pula dari Jabir Radhiyallahu anhu, “Tiada adzan untuk shalat ‘Idul Fithri (dan 'Idul Adha), baik ketika imam belum datang, ataupun setelahnya. Dan tidak ada Iqamat dan seruan atau sesuatu apapun.” (HR. Muslim)

Menunjukan bahwa tidak ada panggilan apapun saat akan ditegakan shalat 'Id. Tidak dibenarkan juga menggantinya dengan seruan-seruan lain seperti perkataan "as-shalatu jami'ah rahimakumullah", atau seruan pengganti lainnya.

Karena agama ini sudah jelas. Seandainya ada lafadz-lafadz tertentu, tentunya para sahabat yang ratusan ribu sudah ada yang meriwayatkan. Dan jika tidak ada yang sampai pada kita, itu menunjukan bahwa hal tersebut bukanlah hal yang baik.

Seperti perkataan para ulama, "Lau kaana khayran, la tsabaquuna 'Ilayhi"
Jika itu baik, maka para pendahulu kita sudah melakukannya lebih dulu.

Artikel lain