Hukum Shalat Jumat dan Anjuran Saat akan Menghadiri Jumat'an

Oleh Ustadz Adrial | Apr 02, 2018

Pada kitab Al-wajiz penulis menyebutkan bahwa hukum menghadiri shalat jum'at adalah fardu 'ain bagi setiap muslim kecuali 5 golongan:  1. Hamba sahaya, 2. Wanita, 3. Anak yang belum baligh, 4. Orang yang sakit, 5. Orang yang sedang dalam perjalanan. Maka tidak ada kewajiban bagi 5 golongan ini untuk shalat jum'at, namun wajib mengganti dengan shalat dzuhur. Tetapi jika ingin ikut shalat jum'at maka sah shalatnya, namun tidak perlu memaksakan diri karena tidak wajib baginya.

Selain 5 golongan diatas ada 2 golongan tambahan pengecualian. Dan pengecualian ini tidak hanya berlaku untuk shalat jum'at saja, namun shalat berjamaah secara umum:

1. Petugas keamanan

Dimana bisa dipastikan/dugaan kuat jika tidak diamankan akan banyak terjadi hal - hal yang tidak diinginkan.

Contohnya mengamankan imam di masjid - masjid besar seperti imam masjidil haram atau masjid tertentu seperti istiqlal yang rawan pencurian, maka petugas keamanan ini dihukumi darurat dan boleh tidak menghadiri shalat jamaah dan shalat jum'at.

2. Penjaga alat produksi

Dimana alat produksi ini harus bekerja terus 24 jam tidak boleh berhenti. Maka para petugas alat produksi ini boleh untuk tidak menghadiri shalat jum'at. Meskipun para ulama meminta para pemilik usaha seperti ini untuk menggilir dengan petugas non-muslim, agar petugas muslim tersebut bisa menghadiri shalat jamaah dan shalat jum'at.

Beda halnya dengan pegawai rumah makan. Ini bukan termasuk darurat, karena tidak ada masalah jika memang pelanggan harus mengantri lama atau menunda makannya. Maka pegawai rumah makan tetap wajib shalat jum'at. Dalil dari perincian hukum shalat jum'at diatas sebagai berikut:

1. Perintah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Jumu’ah: 9).

Allah memerintahkan kita untuk bersegera menghadiri shalat jum'at, maka jangan berleha - leha (malas), bahkan Allah menyebutkan untuk meninggalkan jual beli. Maka jual beli saat khatib sudah naik mimbar hukumnya haram dan tidak sah jual belinya. Tidak ada keberkahan dalam jual beli yang dilakukan ketika waktu shalat jum'at.

Seharusnya kita bersegera datang ke masjid, dan tunda makan - makan kita sampai selesai shalat jum'at. Apalagi ada keutamaan bagi orang yang pertama mendatangi shalat jum'at, yaitu dianggap bersedekah unta, lalu sapi, lalu kambing, lalu ayam, lalu telur. Dan ketika khatib naik mimbar maka malaikat menutup catatannya.

2. Hadits, Dari Thoriq bin Syihab, dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, beliau bersabda,

“Shalat Jum’at itu kewajiban yang mutlak bagi setiap muslim secara berjama’ah selain empat orang: budak, wanita, anak yang belum baligh, dan orang sakit” (HR. Abu Daud)

Satu golongan lagi berdasarkan hadits dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi musafir (orang dalam perjalanan).” (HR. Ad Daruquthni).

 

Pada matan abu syuja, imam syafi'i menetapkan bahwa berjama'ah dalam hadits diatas maksudnya minimal 40 orang. Namun hal ini tidak ada dasarnya, maka shalat jum'at dapat dilakukan walau hanya dua orang seperti shalat jama'ah lainnya. Ada pula anjuran melakukan amalan - amalan saat akan menghadiri shalat jum'at agar dapat memaksimalkan pahala  yaitu :

1. Mandi Jum'at

2. Shalat intidzhar sampai khatib naik mimbar minimal 2 rakaat

3. Diam saat khotib naik mimbar sampai khutbah selesai

4. Shalat bersama khatib (shalat jum'at)

*Jika dilakukan maka akan diampuni dosa - dosanya antara jum'at sekarang sampai jum'at berikutnya, ditambah 3 hari. Seperti haditsnya yaitu : 

“Barangsiapa yang mandi kemudian mendatangi Jum’at, lalu ia shalat semampunya dan diam (mendengarkan khutbah) hingga selesai, kemudian ia lanjutkan dengan shalat bersama Imam, maka akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dan hari jum’at yang lain. Dan bahkan hingga lebih tiga hari.” (HR. Muslim). Lalu dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

Meskipun jumhur ulama menghukumi mandi jum'at dengan sunnah muakad, namun sebaiknya tidak kita anggap sepele karena sebagian ulama mewajibkannya, berdasarkan adanya hadits,

“Mandi di hari Jum’at wajib bagi setiap muslim yang sudah mimpi (baligh).” (HR. Bukhari dan Muslim). Di hadits yang lain nabi menganjurkan untuk membuat alasan dirinya agar mandi pada hari jum'at, salah satunya dengan jima' dengan istri.

“Barangsiapa yang mandi atau membuat dirinya untuk mandi..." (HR. Ahmad)

__________________________________________

Pertanyaan:

1. Apakah benar panjang khutbah tidak boleh melebihi panjang shalat jum'at nya?

Jawab: Bukan tidak boleh, namun tidak sesuai sunnah saja. Apalagi di Indonesia ini susah dilakukan, karena yang menyebabkan panjangnya khutbah diantaranya adalah mengulang hadits / ayat yang disampaikan untuk diterjemahkan. Beda dengan khutbah  nabi yang pendek, yang memang pada sahabat dulu sudah langsung paham.

2. Bolehkah menjama' shalat jum'at dan ashar?

Jawab: Ada pendapat yang membolehkan, namun saya (ustadz) lebih condong pada yang tidak membolehkan. Maka jika kita safar, jangna hadir shalat jumat jika ingin menjama' dengan shalat ashar.

3. Apakah jika hari 'idul fitr / adha bertepatan dengan hari jum'at maka gugur kewajiban shalat jum'at?

Jawab: Ya gugur kewajiban shalat jumatnya tapi sah jika dilakukan, karena pada asalnya hari jumat juga merupakan hari 'ied. Maka tidak perlu mengulang shalat yang sama. (sama 2 rakaat, sama ada khutbahnya). Dan memang nabi membolehkan untuk tidak shalat jum'at. Kecuali DKM masjid, ia harus menyelenggarakan shalat jum'at karena khawatir ada yang tidak ikut shalat 'ied.

Artikel lain