Fenomena Orang Gila Menurut Hadits Rasulullah

Oleh Ust, Dadang | Mar 13, 2018

Orang gila dapat dimaknai dengan banyak hal. Apa hikmah dari orang gila. Di Banten sekarang banyak masjid-masjid yang melatih santri santrinya dalam hal ilmu kebal, alasannya untuk menangkal orang gila. Kemudia sekarang anak-anak muda yang sudah terlatih ilmu kebalnya rajin berada di masjid untuk menjaga kiayi nya. Adapula di leuweung larangan, masjid-masjid disana sepi karena para kiayinya takut untuk pergi ke masjid karena takut ada orang gila, jadi takut akan manusia bukan takut dengan Allah. Jadi ini menjadikan fenomena yang perlu kita sikapi dan ketahui ada hikmah dibalik fenomena itu, apakah kita semakin dekat dengan Allah atau tidak.

Jadi perlu kita ketahui dulu ada 5 dasar hukum orang gila yang sering diyakini oleh orang-orang :

  1. Orang gila dikatakan gila karena hilang ingatan. Syaraf nya terganggu sehingga membuat perilaku yang tidak berpakaian atau berpenampilan lusuh, lari-lari atau berkeliaran di jalan, berbicara sendiri dan tertawa sendiri.
  2. Orang gila berikutnya dapat dikatakan apabila orang tersebut menjahili temannya sendiri hingga jengkel. Contoh : Ketika anda mau duduk kemudian teman anda menarik kursi anda, anda berkata “Gila lu, gue sampai jatuh”. Nah ini bisa dinamakan orang gila.
  3. Kemudian ada juga orang gila karena terlalu stress atau frustasi akan masalah yang menimpa, contohnya seperti : suami yang ditinggalkan istrinya.
  4. Orang gila selanjutnya yaitu orang yang gila akan harta, jabatan, wanita dan kedudukan. Maka disebut dengan gila harta, tahta, wanita, dsb..
  5. Orang gila juga bisa dikatakan kepada orang yang menawar sesuatu terlalu rendah. Contoh : anda mempunyai motor baru yang anda beli dengan harga 15 juta kemudian anda jual lagi dengan harga 14 juta, kemudian teman anda menawar dengan harga 2 juta. Anda berkata “gila lu ini motor baru masa ditawar 2 juta”

Jadi orang gila diatas tersebut di dapatkan dari anggapan orang lain terhadap orang yang dimaksud. Padahal sesungguhnya pada hadits Rasulullah dikatakan, pada suatu hari Rasulullah SAW ber-jalan melewati sekelompok sahabat yang sedang ber-kumpul. Lalu beliau bertanya kepada mereka:

“Mengapa kalian berkumpul disini” Para sahabat tersebut lalu menjawab: “Ya Rasulullah,  ada orang gila yang sedang mengamuk. Oleh sebab itulah kami ber-kumpul disini.”

Maka Rasulullah SAW lalu bersabda:

“Sesungguhnya  orang  ini  tidaklah  gila  (al-majnun), tapi orang ini hanya sedang mendapat musibah. Tahukah kalian, siapakah orang gila yang sebenar-benarnya disebut gila  (al-majnuun haqqul majnuun) “.

Para sahabat lalu menjawab: “Tidak ya Rasulullah. Hanya Allah dan rasul-Nya jualah yang mengetahuinya.”

Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan:

“Orang gila yang sesungguhnya gila (al-majnun haqqul majnun) adalah orang yang berjalan dengan penuh kesombongan; yang membusungkan dadanya; yang memandang orang dengan pandangan yang merendah-kan; lalu berharap Tuhan akan memberinya surga; padahal ia selalu berbuat maksiat kepada-Nya. Selain itu orang-orang yang ada di sekitarnya, tidak pernah merasa aman dari kelakuan buruknya. Dan di sisi yang lain, orang juga tak pernah mengharapkan perbuatan baiknya. Nah, orang semacam inilah yang disebut sebagai orang gila yang sebenar-benarnya gila (al-majnuun haqqul majnuun). Adapun orang yang kalian tonton ini hanyalah  sedang mendapat musibah dari Allah.”

Dari apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW tersebut, maka dapatlah kita simpulkan; Bahwa orang gila yang sesungguhnya gila atau (al-majnuun haqqul majnuun) adalah orang-orang yang sehat jasmani dan ruhani-nya; yang tetap memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan hukum agama yang dibebankan kepadanya. Namun dalam kehidupan masyarakatnya, ia berpenyakit yang sesuai yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW :

1-Orang yang berjalan dengan sombong dan angkuh

2-Melihat kepada dua sisinya dengan penuh arogansi

3-Mengangkat kedua bahunya dan mengerakkannya

4-Bermaksiat kepada Allah namun mengharapkan surganya

5-Orang lain tidak akan selamat dari kejahatannya dan tidak ada harapan kebaikan padanya.

Tanda kegilaan yang pertama tampakdalam gaya hidup, yaitu cara berjalan. Tentu kegilaan tidak hanya dibatasi pada cara berjalan, dan yang dimaksudkan Nabi saw lebih tinggi daripada itu, yaitu gaya hidup yang arogan dan mau menang sendiri.

Ciri kedua adalah orang yang sombong adalah memandang dirinya superior dan orang lain inferior. Orang seperti ini kata Nabi saw hanya melihat kedua sisinya. Yakni, hanya melihat dirinya dan kalau toh memandang orang lain maka cara pandangannya penuh kehinaan.

Ciri ketiga manusia arogan adalah selalu mengedepankan dirinya dan menarik perhatian orang lain. Nabi saw mengambarkannya dengan ungkapan “Mengangkat kedua bahunya dan mengerakkannya”.

Ciri kempat orang yang angkuh adalah berharap tidak pada tempatnya. Orang ini bukanhanya berharap tidak pada tempatnya pada masyarakat dan sosial bahkan ia mengharapkan sesuatu yang tidak relevan dan tidak pantas kepada Allah Swt. Ironis, ia bermaksiat kepada Allah namun mengharapkan surganya

Ciri kelima individu yang gila ini adalah karakternya selalu menyakit dan membahayakan orang lain. Ia senantiasa memproduksi kejahatan dan kezaliman. Orang seperti ini kata Nabi saw “tidak ada harapan kebaikan padanya.

Demikianlah mengapa Allah SWT mewanti wanti kita agar menjauhi sifat sifat angkuh, sombong, takabur dan angkara murka.

Artikel lain