Ancaman Keras Bagi Yang Melalaikan Shalat Jumat

Oleh Ustadz Adrial | Apr 11, 2018

Setelah kita bahas hukum shalat jum'at dipertemuan sebelumnya, maka dilanjutkan dengan bahasan ancaman kepada orang - orang yang sengaja melalaikan shalat jum'at. Tentunya dikecualikan bagi 5 golongan yang tidak wajib shalat jum'at, yaitu hamba sahaya, wanita, belum baligh, orang sakit, dan musafir.

Hadits pertama yaitu dari Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, keduanya mendengar Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam berkata ketika beliau bersandar atas tongkat di mimbarnya,

“ Hendaklah orang yang suka meninggalkan shalat jumat menghentikan perbuatannya. Atau jika tidak Allah akan benar - benar menutup rapat - rapat hati mereka, kemudian Allah benar-benar akan menjadikan mereka orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim)

Hadits diatas menjelaskan jika seseorang berleha - leha atau lalai dalam mengerjakan shalat jum'at dan kebaikan lainnya, maka Allah juga akan menjadikan orang tersebut semakin lalai. Sebagaimana Allah juga berfirman,

“ Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan malah berpaling mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mukminin, kami biarkan dia dalam kesesatan yang diikutinya itu, dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (An Nisaa’: 115).

Seperti halnya jika seorang sudah sering melakukan kesalahan, maka orang tersebut akan nyaman melakukan kesalahan tersebut. Contoh ketika seseorang telat datang ke kantor, jika dibiarkan dan tidak ada hukuman timbal balik baginya maka ia akan nyaman untuk telat lagi, bahkan mungkin lebih telat dari sebelumnya. Hadits kedua dari ‘Abdullah bin umar, Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam berkata kepada orang-orang yang khalaf (membelakangi / menunda / melalaikan) shalat Jum’at,

“Aku benar-benar ingin menyuruh seseorang agar mengimami manusia. Kemudian aku bakar rumah seluruh laki-laki yang melalaikan shalat Jum’at.” (HR. Muslim)

Kata para ulama, nabi tidak jadi membakar rumah karena didalamnya terdapat wanita, dan orang - oarng yang mungkin terkena udzur sehingga tidak diwajibkan shalat jum'at. Namun ini menunjukan ancaman yang keras dari nabi kepada orang yang melalaikan shalat jum'at Dari hadits diatas sekaligus menjelaskan makna kata Khalaf berarti orang belakangan/zaman sekarang, lawannya adalah Salaf yaitu orang terdahulu.

Salaf secara bahasa artinya orang-orang terdahulu, yaitu para sahabat yang sudah tidak ada saat ini. Maka jika ada orang bertanya apakah anda salaf? maka jawabannya tidak, karena salaf artinya orang terdahulu yang saat ini sudah tidak ada lagi Tapi jika yang dimaksud adalah makna salaf secara istilah yaitu mengikuti ajarannya para salaf maka in syaa Allah kita termasuk orang - orang yang senantiasa berusaha mengikuti ajaran orang - orang terdahulu. Karena salaf/salafi secara istilah maknanya adalah ajaran yang dikembangkan masyarakat untuk senantiasa mengikuti ajaran orang - orang terdahulu. Adpula hadits ke tiga, berbunyi

 “Barangsiapa meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali karena lalai terhadap shalat tersebut, Allah akan tutupi hatinya.” (HR. Abu Daud)

Tidak seperti pemahaman kebanyakan orang bahwa yang meninggalkan shalat jum'at sebanyak tiga kali adalah kafir, melainkan nabi mengatakan akan ditutup hatinya, artinya akan dijauhkan dari kebaikan, dan motivasi untuk melakukan kebaikan pun akan pudar. Dan Hadits keempat berbunyi,

“Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jum’at tanpa ‘udzur, maka dia dicatat dalam golongan orang-orang munafik". (HR. Thabrani)

Untuk waktu pelaksanaan shalat jum'at sama dengan waktu shalat dzuhur, namun bisa juga dilaksanakan sebelum waktu dzuhur. Maksudnya boleh memulai khutbah sebelum waktu dzuhur, akan tetapi shalat nya harus ketika sudah masuk shalat dzuhur.

“ Dari Anas bin Malik bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam shalat Jum’at ketika matahari tergelincir (bergeser ke arah barat).” (HR. Abu Daud)

Kemudian hadits dari Jabir,

“ Kapan Rasulullah shalat Jum’at, ia menjawab,”Beliau shalat Jum’at, kemudian kami kembali ke onta-onta kami, lalu mengistirahatkannya ketika matahari tergelincir ke arah barat." (HR. Muslim)

Dari sini juga kita dapat mengetahui bahwa tidak ada syariat shalat qobliyah jum'at, karena shalat qobliyah pada asalnya dilaksanakan setelah adzan. Sementara setelah adzan yang menandakan masuk waktu dzuhur/jum'at (adzan kedua jika ada dua adzan) selesai, langsung ada khutbah yang wajib didengarkan. Maka tidak ada kesempatan atau waktu shalat qobliyah jum'at.

Artikel lain